Dalam bingkai jiwa yang resah

Dalam bingkai jiwa yang resah

Bunda……

Resahku dalam bingkai purnama

Kala mengenang timangan

Mengusung kembali buaian dalam rahimmu

Yang lembut dan penuh kedamaian

Masih kuingat lesung pipitmu

Rapuh ditelan dinginnya malam

Membendung dingin yang menyusupi kulit lembutku

Merah sunyi tanpa mata

Senyum perakmu

Membingkai ayunan-ayunanku

Delima sinar matamu mengingatkanku pada kelembutan

Keabadian yang tak berujung dan tak pernah bertepi


Gerimis kadang mengguncangku

Saat kau rebahkan tubuh mungilku

Dipembaringan berukirkan emas

Disaput hembusan nafas samudramu

Kukenali kasih dan cintamu

Dalam setiap lembut belai keringatmu

Selentik jemari penari-penari kayangan

Seindah nada denting dalam sunyi malam

Kini semua seolah usai

Saat debur lautan membentang

Memenjarakanku dalam kenyataan

Jauh darimu adalah saat yang tak terbayangkan

Menerima kenyataan usia

Bukanlah sebuah pilihan

Menyusuri jalanan sejauh mata kecilku memandang

Memilah dan memilih dengan bekal yang seolah usang

Tak terbanyangkan olehku

Kembali terpenjarakan dalam ruang kecilku

Sendiri…..

Meniti bebatuan yang runcing dan tajam

Sungai berair jernih

Nyanyian-nyanyian debu trotoar

Deru mesin bus kota

Ilalang yang semakin menjauh dan hilang

Kudekap berhelai-helai rambut pesan

Sebelum keberangkatan

Kurenda bening air mata yang tak tertahankan

Terajut dalam sutra yang masih rapuh

mungkin tak sekokoh karang

Lukisan didepanku kini berbeda

Tidak secantik monalisa

Tak selalu seindah siluet diujung senja

Bahkan tak seharmoni nyanyian binatang malang di hutan desa

Terkadang kutemukan mendung dan halilintar penjaga langit

Yang menggigit rasa hingga dahi berkerenyit

Membuat jantung pecah bak diterjang gelombang pasang

Memalingkanku pada tawa tembaga ketulusan

Dalam bingkai jiwa yang resah

Seperlima abad bukanlah sebentar

Menemukan jalan terang adalah tujuan

Bukanlah hal yang mudah melakukan

Memberi arti dan makna pada detik-detik

Tidaklah semudah mengeja kata-kata dalam sejarah

Kegelian dan kengerian adalah bumbu

Yang harus ditelan dan direndam

Dalam hari yang terus berganti

Karena senja itu pasti

Dalam bingkai jiwa yang resah

Rangkai gurat ini untukmu

Sebentuk wajah ini untukmu

Lukisan pelangi ini untukmu

Hanya keresahan ini yang tak ingin kuhidangkan untukmu

Isi kepala yang teraduk-aduk

Oleh tugas yang tak pernah terduduk

Oleh teriakan-teriakan kecil meja bertumpuk

Terlebih lengkingan anjing digang-gang yang berbau busuk

Saat jendala kamar kecilku terbuka

Saat bunga-bunga mulai tengadah

Kurenungi arti geliat kehidupan

Kutatapi langkah-langkah yang penuh harapan

Mencoba memberi arti dalam setiap tindakan

Denting yang kudengar sungguh berbeda

Tidaklah seperti guguran bunga musim semi

Namun aku terus coba mengerti

Tentang apapun yang mungkin akan kulewati

Hingga nanti jarum jam berhenti

Aku ingin menyampaikan padamu

Tentang langkah yang kuayunkan

Tentang nilai yang kupertahankan

Sebab masih terngiang suara nyiur kampung halaman

Setapak demi setapak kaki kujejakkan

Lelah, sakit hingga tak berasa

Apakah aku akan lumpuh jika melanjutkannya ?

Apakah aku akan jera dan putus asa?

Cerita tentang Adam menemukan Hawa adalah ilham

Wahyu untuk mengerti arti letih

Memahami makna tarian kehidupan

Memberi pijakan untuk terus berdendang

Dalam bingkai jiwa yang resah

Kasih dan cinta itu kini berbeda

Bergeser entah mengapa

Seolah menyuguhkan menu seribu samudra

Dan jujur aku ingin mencicipi semuanya

Merengkuhnya adalah satu harapan

Menemukan arti kesetiaan dan ketulusan

Dari wajah asing yang seolah kukenal sepanjang zaman

Memenuhi bilik-bilik hati penuh kasmaran

Darinya kutemukan air kehidupan

Mengisi guci-guci dan tempayan

Nyata namun masih kupertanyakan

Benarkah aku berdiri disebuah persimpangan?

Menentukan pilihan tidaklah mudah

Diantara senyum perak bunda yang masih menjelma

Dalam lukisan perjalanan yang harus kuselesaikan

Karena aku ditunggu dengan penuh harapan

Peperangan Sparta dan Athena itu kini hadir

Dalam dada dan terus bergulir

Entah apakah aku yang harus selesaikan ?

Ataukah waktu yang akan mengucapkan ?

Ketika merasa sejuk embun pagi adalah nyata

Aku menjadi terbata-bata, risau menang atukah kalah

Sebab ukurnya bukanlah pedang berlumur darah

Bukan pula topeng baja yang masih bertengger diwajah

Dalam bingkai jiwa yang resah

Sailendra membangun candi

Sang Budha yang terus berjalan kaki tanpa henti

Julius Caesar merayu Kleopatra

Mahadewa Siwa terbang bersama angsa dan garuda mahayana

Semua bersinggungan antara yang hayal dan yang nyata

Lambat namun pasti mengerti

Arti sayap-sayap yang patah

Makna taman bunga mawar merah

Ataupun pedang berlumur darah

Lambat namun pasti mengerti

Arti cinta diruang-ruang kuliah

Makna kasih diantara daftar pustaka

Ataupun sayang dalam dekap kampus yang serakah

Mungkin setelah usai

Saat tertanggalkan perisai harapan

Ketika reda gerimis tempaan

Dan kenyataan berbeda dengan hayalan

Dalam bingkai jiwa yang resah

Birunya air lautan mengisyaratkan kedalaman

Deburan ombak pecahkan karang mengajari telikung palung lautan

Siapapun takkan pernah tahu jaring esok kehidupan

Bahkan mungkin engkau, aku, apalagi mereka

Namun terus melangkah adalah keharusan

Mengenang senyum perak bunda adalah kewajiban

Menjaga degub jantung kasih dan sayang adalah kesetiaan

Melukis dengan tinta emas dan warna pelangi adalah tujuan keabadian

Entah kapan tertutup jendela ruang kecilku dan ruang kecilmu

Sesaat setelah daun dan bunga tak lagi bertabur rona memerah

Dan semua tertunduk, melihat langit senja berarak jingga

Hingga semuanya damai dan penuh makna.

Terima kasih bunda untuk cinta dengan segala inginnya.

Dalam bingkai jiwa yang resah

Aku mengajakmu untuk memahami arti cinta

“Kupersembahkan ini untuk seseorang yang belum berani mencoba meng-ada-kan ruang-ruang dan hanya berkutat dalam pusarannya sendiri, dendam kaca pecah sedalam relung wajah yang tersimpan didalamnya.”

Advertisements

3 thoughts on “Dalam bingkai jiwa yang resah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s